Karantina Pertanian Ende mendampingi Tim Kementerian Pertanian (Kementan) terjun ke lapangan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Hal ini untuk menanggapi laporan adanya dugaan African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di wilayah tersebut.
Kegiatan berlangsung selama dua hari pada tanggal 10-11 Juli 2020. Pemantauan dilakukan dengan wawancara pemilik ternak, pengambilan sampel di dua lokasi yang meliputi sampel darah dan sampel organ dalam babi yang sudah mati. Sampel darah diambil dari babi sehat dan babi yang terindikasi terserang ASF.
“Kami juga ambil sampel untuk diuji di laboratorium. Sampel yang diambil karantina sebagai pembanding untuk memastikan hasil laboratorium. Berdasarkan informasi dari warga, jarak kematian babi relatif lama. Satu minggu hingga satu bulan. Masih dugaan dan harus menunggu hasil pengujian,” kata Yulius Umbu Hunggar selaku Kepala Stasiun Pertanian Ende, Sabtu (11/07) di sela-sela mendampingi tim.
Yulius menambahkan tim juga melakukan disinfeksi di perkandangan ternak dan menyerahkan bantuan dari Kementan. Dalam upaya pencegahannya, Bupati Sikka juga menegaskan akan mengambil langkah penutupan atau mencegah pemasukan dan pengeluaran komoditas ternak babi, baik dalam keadaan hidup maupun dalam produk daging olahan.
Tim Kementan terdiri dari Inspektorat Jenderal, Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Direktorat Kesehatan Hewan, Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, Balai Besar Veteriner Denpasar juga didampingi Dinas Peternakan Provinsi NTT dan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.